Bung Karno dan Bapak-Bapak Bangsa yang Humanis

Menonton Film “Soekarno” setelah sebelumnya membaca buku Penyambung Lidah Rakyat rasanya agak aneh. Di bukunya Bung Karno banyak memberikan penjelasan atas aksi-aksi kontroversialnya seperti kerjasamanya dengan Jepang, sementara di filmnya Hanung Bramantyo (seperti biasa) mengangkat isu-isu kontroversial dari hidup Bung Karno seperti perilaku Bung Karno yang punya perhatian besar terhadap perempuan dan pragmatisnya Bung Karno dalam masa perjuangannya.

Dari film dan buku tersebut tidak dapat kita sangkal bahwa Bung Karno menjadi pemain kunci dalam usaha perjuangan kemerdekaan Indonesia karena beliaulah yang menjadi ‘PR’ dan satu-satunya orang yang dipercaya oleh orang umum kebanyakan pada saat itu. Walaupun begitu, kita tidak dapat menyangkal bahwa Bung Karno bukanlah siapa-siapa tanpa Hatta, Sjahrir dan pejuang-pejuang lainnya saat itu karena tanpa mereka Bung Karno akan sulit di-‘rem’ karena beliau terlalu impulsif walaupun di akhir beliau menjadi sangat pragmatis.

Bagaimanapun juga, Hatta dan Sjahrir akan tetap menjadi favorit saya. Dari sekian banyak orang yang terlibat dalam perjuangan kemerdekaan RI, mereka adalah orang-orang yang punya integritas tinggi dalam hal kemanusiaan dan pendidikan. Jika saja ide Hatta dalam soal mendirikan negara federal Indonesia dapat terwujud, mungkin pembangunan barat-timur Indonesia tidak akan setimpang ini. Begitu juga tentang concern Sjahrir soal pendidikan dan kedaulatan, yang jika Sjahrir mendapatkan tempat untuk mewujudkannya bukannya tidak mungkin pondasi kurikulum dan pendidikan kita akan lebih humanis.

Terlepas dari itu, kita tidak bisa menyalahkan Bung Karno karena telah menjadi Bung Karno. Dengan kelebihan dan kekurangannya Bung Karno sudah memberikan banyak untuk bangsa ini. Kita butuh lebih banyak lagi film atau buku-buku yang berkaitan tentang bapak bangsa kita. Dari sanalah mungkin kita bisa mulai untuk menjadi seorang agamis atau nasionalis (terserah mau jadi yang mana) yang humanis.

Partai Kampus – 11 Juni 2014

Malam tadi saya dan kawan-kawan partai membahas soal revisi UU Partai Mahasiswa di kampus. Penting buat kami untuk mendorong kesadaran berpolitik di kampus. Maka dari itu kami mengajukan Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa untuk hadir selama setahun penuh sebagai organisasi resmi yang dilindungi AD ART KM UGM. Gunanya untuk memastikan seluruh partai kampus bekerja dengan baik dan tidak didomplengi kepentingan politik bangsat di luar sana. Kami bersepakat sah-sah saja partai kampus berafiliasi dengan gerakan mahasiswa ekstra kampus asalkan dengan gentle menyatakan afiliasinya. Terlalu banyak aktor pengecut dan pendusta di politik kampus.

Komisi pemilihan yang dimaksud tadi harus mencakup beberapa fungsi: pengawasan struktural dan administratif (1); pendidikan dan sosialisasi politik untuk mahasiswa (2); dan menyelenggarakan pemilihan umum mahasiswa yang sehat (3). Dengan demikian diharapkan partai mahasiswa jadi solusi dalam permasalahan sehari-hari di kampus dan tidak hanya hadir di penghujung jabatan BEM KM saja. Kami sempat khawatir dengan kemungkinan komisi yang demikian dijadikan alat pemelihara kekuasaan satu golongan tertentu. Tapi, lagi, kami mengharapkan yang terbaik dan tidak logis rasanya kekhawatiran kami menghalangi kepentingan mahasiswa yang begitu banyak.

11 Juni 2014

Maaf

Eid - Abie

 

Orat-oret malam takbiran. Karena maaf bukan cuma kata, tapi aksi beribu makna yang butuh keikhlasan untuk menjalaninya. Karena tanpa keikhlasan, maaf cuma kata yang percuma.

Manusia, Tuhan dan Perdamaian

Pohon tak berdaun berdiri membisu
Di tanah yang menghitam bertutup salju putih
Lamat menatap malam yang perlahan turun
Menghantar manusia-manusia malang
Yang meregang maut tiap hari

Banyak orang yang begitu mendewakan perang. Kekuatan, kekerasan dan apapun yang berhubungan dengan senjata menjadi begitu penting dalam sejarah hidup manusia. Sebagai orang yang belajar politik internasional saya bisa paham. Rasional memang jika perang dan kebencian jadi pewarna dominan dalam kehidupan manusia kebanyakan. Rasional, tapi tetap sulit untuk diterima.

Belakangan (sebenarnya sudah dari dulu) banyak orang yang secara terbuka mendukung cikal bakal fasisme di Indonesia. Harga diri bangsa di atas segalanya. Kekuatan militer dan politik luar negeri yang agresif bisa jadi dibenarkan buat itu. Banyak dari kita rela menumpahkan darah untuk sejengkal tanah dan air. Rasional memang. Tapi, lagi, tetap sulit untuk diterima.

Tiada ibu yang tak meraung
Dan berbasah tangis
Ketika mengantar anaknya ke liang lahat

Saya merasa seperti orang munafik. Membenci perang dan kekerasan, tapi tidak bisa menafikan rasionalistasnya. Sakit rasanya kehilangan seseorang dalam keadaan wajar. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya harus kehilangan seseorang demi ego dan ambisi (politik) semata. Saya pernah menguburkan ayah saya. Saya tidak mau menguburkan anak saya. Karena begitulah yang terjadi ketika perang, ayah menguburkan anaknya sementara anak sewajarnya menguburkan ayahnya.

Ya Tuhan, Engkau menjanjikan surga untuk mereka yang mati demi nama-Mu dan nama agama-Mu. Di satu sisi Engkau selalu memulai sabda-Mu denaan pesan Rahman dan Rahim. Apakah Engkau memperkenankan penindasan bahkan pembunuhan dengan atas nama-Mu?Salahkah hamba tidak marah ketika nama dan agama-Mu diinjak-injak karena hamba yakin nama-Mu dan agama-Mu tetaplah Agung dan Suci selalu.

Salahkah hamba memilih untuk tersenyum dan merangkul musuh-Mu dengan harap Engkau akan mencurahkan cinta dan pencerahan kepadanya? Dan salahkah hamba jika pada akhirnya hamba harus berseteru dengan saudara-saudara hamba yang mencintai-Mu dengan kepal dan darah mendidih di kepalanya?

Mahabenar Engkau. Tunjukilah aku jalan yang lurus. Jalan mereka yang Engkau cerahkan, bukan mereka yang Engkau sesatkan.

 

Yogyakarta, 11 Juni 2014

16 Tahun Reformasi: Di Mana Mahasiswa Hari Ini?

Muhammad Abie Zaidannas Suhud – Future Leaders Party UGM

Enam belas tahun lalu di bulan yang sama jutaan manusia hiruk-pikuk membanjiri gedung hijau setengah lingkaran. Pakaiannya warna-warni tapi mereka sama, sama-sama mahasiswa dan sama-sama muak dengan rezim panjang Orde Baru yang penuh dengan darah dan kebohongan. Enam belas tahun lalu mahasiswa jadi harapan dan tumpuan bangsa dan punya tempat bergengsi di dalam struktur sosial masyarakat Indonesia. Bagaimana dengan mahasiswa hari ini?

- – – – – – – -

Sebelum dan pada era reformasi (banyak) mahasiswa rutin menghabiskan malam untuk membaca buku-buku terlarang atau sekedar bincang-bincang yang berujung pada topik yang subversif. Ada banyak cerita tentang bagaimana sulitnya menyelenggarakan diskusi-diskusi tanpa dihadiri oleh sejumlah agen intelijen Orde Baru di tengah-tengah peserta diskusi yang bisa mengakibatkan peserta diskusi duduk semalam atau lebih di hotel prodeo esok harinya. Gerakan mahasiswa senantiasa identik dengan protes menyuarakan aspirasi rakyat dan aksi subversif. Tidak akan cukup rasanya satu-dua jilid buku untuk membahas lebih jauh tentang pergerakan mahasiswa pada era pra-reformasi sehingga tidak mungkin pembahasan tersebut dapat dibahas secara utuh disini.

Pasca reformasi gerakan mahasiswa mengalami perubahan yang cukup signifikan. Posisi pemerintah yang tidak selalu dapat ditempatkan sebagai ‘musuh bersama’ dari mahasiswa dan rakyat menjadikan gerakan mahasiswa yang bernuansa konfrontatif tidak dilirik sebagai sesuatu yang menarik. Akibat kondisi ekonomi yang lebih baik serta kebebasan berbicara yang mumpuni, gerakan mahasiswa bergerak menuju bentuk yang lebih less confrontative. Perubahan yang demikian tidak jarang diikuti dengan komentar miring (terutama dari golongan tua) yang memposisikan gerakan mahasiswa kontemporer sebagai gerakan yang lemah dan tidak punya ‘taring’ dan posisis kuat di mata pemerintah. Hal ini kemudian diikuti dengan banyaknya intervensi ‘golongan tua’ atau eks aktivis era reformasi kepada organisasi-organisasi mahasiswa yang seringkali berujung dengan politisasi organisasi gerakan mahasiswa.

Reformasi yang diikuti dengan munculnya lembaga-lembaga advokasi dari pemerintah membuat peran mahasiswa sebagai corong suara rakyat semakin berkurang. Dengan demikian, pemerintah tidak lagi dapat semena-mena menindas rakyat seperti dulu, terlebih dengan mata tajam dari media massa yang tanpa batas. Dengan adanya desentralisasi, isu lokal menjadi sangat penting sehingga masyarakat lebih aware dengan proses politik dan advokasi yang ada disekitarnya diikuti dengan partisipasi politik yang lebih aktif dari masyarakat.

Akhirnya, gerakan mahasiswa pasa reformasi berubah bentuk dari gerakan protes menjadi gerakan pembangunan. Mengkritik pemerintah dan menuntut ini-itu tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang relevan dalam kehidupan mahasiswa. Gerakan mahasiswa kontemporer memandang partisipasi aktif sebagai bentuk paling relevan dalam gerakan mahasiswa melalui serangkaian program-program pengabdian masyarakat sebagai inti gerakan mahasiswa. Hal yang demikian ditandai dengan bermunculannya komunitas-komunitas mahasiswa yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan hidup, bidang pemberdayaan masyarakat, bidang kepemimpinan dan bidang-bidang lainnya pada sekitar tahun 2000an.

Gerakan mahasiswa yang demikian kemudian kemudian berkembang dan bertransformasi menjadi gerakan-gerakan populer seiring dengan berkembangnya media dan teknologi informasi. Mahasiswa seringkali menjadi motor penggerak dalam berbagai kampanye terhadap suatu isu spesifik yang memiliki sifat dan waktu yang terbatas sehingga gerakan mahasiswa saat ini memiliki bentuk yang lebih sederhana dengan jumlah orang yang sedikit serta waktu yang terbatas. Bahkan dengan pesatnya media sosial di Indonesia, gerakan mahasiswa dapat dilakukan di depan layar komputer dan menghasilkan efek besar melalui beberapa klik dan beberapa baris tulisan.

Semua paparan di atas menunjukkan bahwa gerakan mahasiswa masih menjadi sebuah isu yang relevan pada hari ini. Mahasiswa pada saat ini dan di masa yang akan datang dengan tidak akan pernah ketinggalan dalam melakukan tugasnya sebagai agent of change, social control dan iron stock karena gerakan mahasiswa, kecil atau besar, di lapangan atau di depan komputer akan senantiasa diikuti dengan perubahan positif bagi masyarakat. Sekarang, semuanya hanya tergantung kepada mahasiswa untuk berada di mana. Di dalam usaha positif untuk menciptakan perubahan masa depan semua, atau semata-mata belajar dan berprestasi untuk masa depan sendiri?

Jaring

IMG_0440

Tahukah kamu, di tempat yang paling indah di muka bumipun manusia bersenang-senang dengan penderitaan makhluk lain? Tidak percaya? Lihat jaring perangkap ini, disewakan hanya untuk memuaskan rasa iseng manusia terhadap seekor ubur-ubur atau ikan yang malang.