Semua Dimulai Setelah Sujud

Memori, Agustus 2009

Aku lupa tanggalnya, tapi aku masih ingat tempat itu dengan jelas. Gedung berlantai tiga, cat merah muda, deretan kamar yang berbaris, lukisan-lukisan kaligrafi dan lapangan yang luas. Hawa dinginnya, terpaan angin di wajah dan embun paginya masih mudah untuk diingat. Sulit untuk melupakan tempat itu, waktu itu.

Beberapa pekan sebelumnya

Semua orang berlarian keluar dari ruangan, berebut mencari selamat. Gempa mengguncang selatan Tasikmalaya, korban berjatuhan. Tapi kami sibuk berdebat soal uang, soal mulut dan soal perut. Aku sempat (dan masih) meragukan keikhlasan orang-orang tua itu, walaupun kini aku tahu apa yang terjadi saat itu.

Diputuskan, kami akan pergi ke tempat itu, sebuah bangunan megah di kaki Gunung Salak. Mengenalkan Tuhan katanya.

Malam pertama

Semua telah diatur, keadaan sudah cukup terkendali. Aku pergi ke belakang ruang besar tempat semua peserta berkumpul dan disuruh membuat catatan, aku menemukan ruang kecil dengan jendela besar. Aku buka jendela itu, ada celah kecil di depan jendela itu. Aku melompat keluar jendela, itu lantai dua, aku duduk di celah itu memandangi langit yang penuh bintang. Sementara sahut-sahutan dzikir, doa dan ayat-ayat suci meliputi malam itu.

Aku ingin menangis tapi tak bisa, jadilah aku duduk sendirian memaksakan sebuah senyum. Malam itu adalah malam terdamaiku, setidaknya yang bisa kuingat hingga kini.

Malam selanjutnya, aku lupa malam keberapa.

Aku berkeliling di tengah temaramnya lampu, di tengah isak tangis mereka yang ditakut-takuti kematian. Terdengar teriakan memanggil “ayah” atau “ibu”, seorang dari mereka bahkan tidak berhenti menangis setelah lampu dinyalakan kembali. Aku iri, aku ingin bisa menangis terisak, tersedu.

Malam terakhir.

Aku enggan untuk ada di tengah isak tangis. Aku kembali ke celah di depan jendela, melempar harap kepada Yang Mahakuasa. Aku kembali berada dalam ketentraman, sementara.

Malam ini.

Sekian malam telah kulalui, seorang bijak pernah memberitahuku bahwa tidak mudah menumpahkan tangis dalam sujud. Orang itu juga berkata bahwa menumpahkan tangis dalam sujud bukan segalanya. Katanya, semua dimulai setelah sujud.

Ya, bagaimana bisa memulai setelah sujud sementar banyak sujud yang hilang?

Selesai


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s