Manusia, Tuhan dan Perdamaian

Pohon tak berdaun berdiri membisu
Di tanah yang menghitam bertutup salju putih
Lamat menatap malam yang perlahan turun
Menghantar manusia-manusia malang
Yang meregang maut tiap hari

Banyak orang yang begitu mendewakan perang. Kekuatan, kekerasan dan apapun yang berhubungan dengan senjata menjadi begitu penting dalam sejarah hidup manusia. Sebagai orang yang belajar politik internasional saya bisa paham. Rasional memang jika perang dan kebencian jadi pewarna dominan dalam kehidupan manusia kebanyakan. Rasional, tapi tetap sulit untuk diterima.

Belakangan (sebenarnya sudah dari dulu) banyak orang yang secara terbuka mendukung cikal bakal fasisme di Indonesia. Harga diri bangsa di atas segalanya. Kekuatan militer dan politik luar negeri yang agresif bisa jadi dibenarkan buat itu. Banyak dari kita rela menumpahkan darah untuk sejengkal tanah dan air. Rasional memang. Tapi, lagi, tetap sulit untuk diterima.

Tiada ibu yang tak meraung
Dan berbasah tangis
Ketika mengantar anaknya ke liang lahat

Saya merasa seperti orang munafik. Membenci perang dan kekerasan, tapi tidak bisa menafikan rasionalistasnya. Sakit rasanya kehilangan seseorang dalam keadaan wajar. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya harus kehilangan seseorang demi ego dan ambisi (politik) semata. Saya pernah menguburkan ayah saya. Saya tidak mau menguburkan anak saya. Karena begitulah yang terjadi ketika perang, ayah menguburkan anaknya sementara anak sewajarnya menguburkan ayahnya.

Ya Tuhan, Engkau menjanjikan surga untuk mereka yang mati demi nama-Mu dan nama agama-Mu. Di satu sisi Engkau selalu memulai sabda-Mu denaan pesan Rahman dan Rahim. Apakah Engkau memperkenankan penindasan bahkan pembunuhan dengan atas nama-Mu?Salahkah hamba tidak marah ketika nama dan agama-Mu diinjak-injak karena hamba yakin nama-Mu dan agama-Mu tetaplah Agung dan Suci selalu.

Salahkah hamba memilih untuk tersenyum dan merangkul musuh-Mu dengan harap Engkau akan mencurahkan cinta dan pencerahan kepadanya? Dan salahkah hamba jika pada akhirnya hamba harus berseteru dengan saudara-saudara hamba yang mencintai-Mu dengan kepal dan darah mendidih di kepalanya?

Mahabenar Engkau. Tunjukilah aku jalan yang lurus. Jalan mereka yang Engkau cerahkan, bukan mereka yang Engkau sesatkan.

 

Yogyakarta, 11 Juni 2014

Advertisements

2 comments

  1. Bagaimana kalau semua pertanyaan itu telah Allah jawab di Quran surat An-Nisa?
    “(Yaitu) orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin.”
    “Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Ketahuilah bahwa semua kekuatan itu milik Allah.”
    “Apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk bersama mereka.”
    “Karena (kalau kamu tetap duduk dengan mereka), tentulah kamu serupa dengan mereka…”
    Tidak bisakah kita tetap berdiri di barisan muslim? Seburuk apa pun, seberantakan apa pun barisan itu, secerai-berai apa pun, bagaimana pun tak bisa dibanggakannya barisan itu. Karena kita bisa memilih. Kita bisa memilih menjadi figur yang mengatur ulang barisan. Meski harus susah payah. Meski geregetan. Meski harus babak belur. Yang penting kita memperbaikinya. Mendinginkan darah yang mendidih, melemaskan tangan yang melulu terkepal. Sambil berdoa supaya musuh-Nya disinari hidayah.
    Berat memang mengkatrol supaya narasi-narasi yang dipakai umat ini adalah narasi kedamaian. Tetapi, perjuangan macam apa yang ringan, Bung?
    Gie selalu bilang bahwa kita harus membela kebenaran. Kebenaran yang hanya ada di langit, sehingga bumi adalah palsu. Palsu. Maka sudahkah antum mendefinisikan kebenaran mana yang antum bela? Kebenaran versi siapa? (Baca tulisan Kovach atau Andreas Harsono, bahwa kebenaran itu tidak satu. Kebenaran itu banyak versi).
    Setelah itu putuskan, apakah perjuangan antum memang harus merangkul musuh-Nya?
    Allah yubaarik fiik. Semoga Allah selalu memberkahi kita dengan pencerahan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s