Muhammad

Cover Maulid

Entah sebuah beban berat atau sebuah kehormatan menyandang nama ‘Muhammad’, saya tidak tahu pasti. Yang pasti Ayah saya punya harapan besar dengan menaruh nama ‘Muhammad’ di depan nama saya, sebagaimana Kakek saya menaruhnya di depan nama Ayah saya atau sebagaimana Buyut saya menaruhnya di depan nama Kakek saya dan seterusnya. Selain harapan besar, nama ‘Muhammad’ jadi nama yang pasaran tapi tidak kacangan di Indonesia. Enam belas tahun lebih saya sekolah, saya bukan satu-satunya penyandang nama ‘Muhammad’, terbukti dari deretan nama yang sama di lembar absen TK sampai Kuliah ini.

Dalam tulisan singkat ini, saya cuma mau cerita tentang bagaimana sosok Muhammad (Rasulullah SAW) punya tempat penting buat hidup saya, yang notabene bisa dikategorikan sebagai orang Islam ‘yang tidak baik’.

Dulu sewaktu SMP saya sempat mengalami krisis kepercayaan terhadap keberadaan Tuhan. Mungkin terlalu berlebihan buat ukuran anak SMP, tapi bagaimanapun saya beruntung mengalaminya di waktu SMP, bukan sekarang-sekarang ini. Pada waktu itu saya, yang baru kenal internet banyak membaca artikel-artikel dan tulisan yang kurang bisa dipertanggungjawabkan kelayakannya, singkat cerita saya jadi ragu-ragu sama agama yang saya (orang tua saya) peluk, Islam.

Mungkin agak absurd untuk orang lain, tapi saya menetapkan hati di Agama Islam setelah tertarik melihat sosok Muhammad SAW di buku “100 Tokoh Paling Berpengaruh” karya Michael Hart. Saya ragu-ragu kenapa Muhammad menempati posisi pertama di buku tersebut, padahal menurut saya saat itu banyak penakluk lain yang punya prestasi lebih dari Muhammad. Hal yang demikian mendorong saya untuk membaca lebih banyak literatur tentang Muhammad, salah satunya karya Haekal setelah direkomendasikan oleh Kak Panji (murabbi saya waktu SMA). Singkat kata, Muhammad SAW menjadi salah satu alasan utama (dan alasan paling logis) saya untuk menetapkan keyakinan pada Islam hingga saat ini (dan semoga) hingga kapanpun juga. Bukan karena hasil penaklukan politiknya, tapi karena bagaimana Muhammad SAW berhasil membangun masyarakat humanis di Jazirah Arab yang barbar waktu itu.

Saya senantiasa mengingat kisah Muhammad SAW yang secara rutin memberi makan pengemis Yahudi buta, padahal si pengemis itu tak pernah absen menghinanya. Ketika saya merasa kecewa terhadap segelintir orang yang berpikiran sempit tentang Islam saya senantiasa mengingat kembali kisah tersebut sehingga harapan saya kembali buncah dengan mengingat tugas saya untuk memanusiakan manusia lainnya. Hingga kini, Muhammad SAW selalu jadi inspirator nomor satu bagi saya untuk menjadi seorang humanis. Muhammad SAW yang memperkenalkan saya kepada kemanusiaan dan kegiatan-kegiatan sosial lainnya.

Allahumma shalli ‘alaa Muhammad 🙂

Yogyakarta, 12 Rabi’ul Awwal | 03 Januari 2015

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s