Jurnal: Longsor Banjarnegara 2014

Minggu malam, 15 Desember 2014.

Hujan rintik-rintik baru saja selesai, hawa sejuk menyelimuti udara di ruang belakang Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM. Beberapa pekan terakhir kami sering duduk-duduk dan berdiskusi di sana karena ruang depan ditutup oleh empunya ruangan. Satu persatu kawan-kawan kami tidur atau pulang, tapi atmosfir malam itu masih sama, bicara soal hitung-hitungan ‘korban jiwa’ politik kampus. Ya, malam itu hasil Pemilwa sudah resmi dikeluarkan oleh KPUM. Kami kurang sekitar 300 suara dari kemenangan, tipis memang tapi kami puas karena kami bekerja dengan baik tahun ini.

Agak pagi ponsel saya berdenting, ada pesan masuk di grup whatsapp kami dari Pras. Ia beri kabar soal bencana yang terjadi di Banjarnegara, dia tanya apakah kita kirim bantuan atau tidak. Saya nyaris tidak tahu kalau ada longsor besar di Banjarnegara karena waktu habis untuk mengurusi pekerjaan akhir tahun kantor dan tetek-bengek politik kampus. Saya lihat ke sekeliling semua sudah tidur lelap, tinggal saya di depan laptop butut saya mulai mencari-cari berita soal longsor tersebut. Parah ternyata, kami harus kirim bantuan pikir saya. Tak lama Kukuh bangun, saya coba ajak dia ngobrol soal pengiriman bantuan dan relawan dari FLP UGM. Dia setuju, mulailah kita oret-oret soal rencana kami. Diputuskan saya berangkat ke Banjarnegara hari Selasa setelah dapat izin dari kantor.

 

Selasa Malam, 17 Desember 2014

Setelah dua hari kita habiskan untuk mengumpulkan bantuan, berangkatlah saya dan delapan orang lainnya: Robi, Fauzi, Awe, Aji, Ahmed dari FLP UGM, ditambah satu Dokter, Lala dari UNAIR dan dua orang relawan independen pak Ridlo dan pak Erwin yang dititipkan ACT Jogja ke rombongan kami. Setelah menempuh tujuh jam perjalanan yang berat akibat mobil yang penuh dan jalan yang terjal, kami sampai di Posko Pusat ACT di Kecamatan Karangkobar. Malam itu kecamatan Karangkobar yang dingin nampak hidup oleh kedatangan ribuan relawan dari seantero Indonesia. Suasana cukup mencekam, dingin dan banyak mobil ambulans lalu-lalang. Kami diperintahkan supaya beristirahat dan bersiap untuk briefing pagi setelah subuh.

 

Rabu-Minggu 18-21 Desember 2014

Lima hari ini singkat tapi panjang, bersama teman-teman dari berbagai daerah kami bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya. Biasanya rombongan kami terdiri dari 3 tim: Tim Medis, Tim Trauma Healing dan Tim Relief. Saya ditugaskan di tim Trauma Healing untuk anak-anak di pengungsian.

Karena tempat pengungsian tersebar di berbagai tempat, saya harus menelusuri tempat-tempat yang terpencil, di tengah gunung dan dikelilingi bukit yang lumayan curam. Saya selalu gagal memahami kenapa banyak orang yang mau tinggal di wilayah seperti ini, jauh dari fasilitas publik bahkan jauh dari jangkauan teknologi yang kita sebagai orang kota mungkin tak bisa lepaskan. Tapi dari yang kami lihat mereka hidup bahagia dalam kesederhanaan, tanpa pernah kami bisa memahaminya.

Dari setiap jengkal perjalanan kami tiap harinya, makin paham saya mengapa Pulau Jawa disebut sebagai pulau paling padat di dunia. Tak ayal, setiap jengkal tanah di sini baik di tebing atau di tempat yang datar selalu ada jejak jamahan manusia. Sulit rasanya mengira-ngira jika ada satu-dua petak tanah yang tidak ada pemiliknya di Pulau Jawa. Mungkin itu juga yang menyebabkan tingginya resiko bencana akibat manusia di Pulau Jawa.

Suatu kali kami menyambangi pengungsian yang terletak di kantor kepala desa, terlihat bantuan menumpuk dan membludak. Ternyata pemandangan yang sama terjadi di titik -titik konsentrasi pengungsi lainnya. Tak jarang pengelola titik pengungsian harus menolak bantuan yang datang akibat tidak ada lagi tempat untuk menampung bantuan yang ada. Singkat kata, ada penumpukan barang logistik bantuan di fase awal bencana. Hal demikian terjadi bukan karena buruknya distribusi bantuan namun karena tingginya volume barang yang masuk.

Terlepas dari menumpuknya bantuan untuk korban bencana, fenomena seperti ini dapat menjadi indikator tingginya tingkat kepedulian dan tren kemanusiaan di Indonesia. Makin banyaknya humanitarian enterprise yang bermunculan dan tingginya populasi kelas menengah di Indonesia ikut mendorong tren kemanusiaan ini. Hal demikian menjadi modal penting untuk disaster resilience di Indonesia kedepannya.

Yang lebih menyenangkan lagi adalah kami melihat sendiri tingginya animo masyarakat dari berbagai lapisan untuk turut membantu korban bencana. Tiap hari ada saja orang-orang yang datang dari jauh untuk mengantarkan bantuan baik dalam jumlah kecil ataupun besar. Salah satu yang paling berkesan bagi saya adalah bagaimana serombongan orang desa sekitar 20 (saya tak tahu istilah yang lebih tepat) berjubel dalam truk pickup mengantarkan bantuan beras dan barang-barang hasil panen untuk korban bencana. Padahal secara kasat mata dapat saya simpulkan bahwa mereka hanya buruh tani biasa.

Ada lagi seorang guru SD dari Wonosobo yang jaraknya puluhan kilometer datang menggunakan sepeda motor Impreza tuanya untuk menyampaikan bantuan sebesar tak lebih dari 150.000 Rupiah. Bantuan itu adalah hasil sumbangan siswa SD kecil di pelosok desa lainnya. Mereka tak mau ketinggalan untuk turut membantu meringankan beban mereka yang terkena musibah. Belum lagi rombongan-rombongan lainnya yang datang untuk menyampaikan bantuan yang jumlah dan kualitasnya tidak bisa diremehkan, mulai dari OSIS SMA, Klub Pengusaha Café hingga Geng Motor. Dari sini kami belajar bahwa masih ada harapan besar bahwa bangsa kita belum kehilangan kemanusiaannya.

Menjadi Relawan:
Membayar Hutang Kebaikan Semesta

Ribuan relawan hadir di Karangkobar, menjadikannya sebagai ‘Kota Relawan’ yang ramai, hidup siang dan malam. Rumah makan dan pasar jadi lebih ramai, berkah tersembunyi untuk pedagang makanan disana. Kemanapun kami berjalan di sana pula kami bertemu relawan lainnya, dan kami juga bertukar senyum dan sapa yang seringkali muncul dari wajah lelah dan basah. Entah mengapa tegur sapa antar relawan selalu jadi mood booster untuk kami.

Selama seminggu sebagian besar waktu kami dihabiskan bersama sesama relawan. Mereka hadir dari berbagai daerah di Indonesia, di tim kami kebanyakan dari Jawa Barat. Semuanya punya latar belakang yang berbeda, mulai dari supir truk, mahasiswa, perawat, bidan hingga pegawai kantoran. Semuanya meninggalkan sejenak kesibukannya untuk membantu sesama.

Dari sekian banyak momen dan obrolan yang saya lewati, mungkin saya dapat mengambil kesimpulan bahwa menjadi relawan atau membantu mereka yang membutuhkan bukan hanya panggilan melainkan juga semacam kewajiban atau bahkan untuk setiap orang. Menjadi relawan berarti membayar hutang kita sebagai manusia terhadap kebaikan Tuhan dan banyak orang lainnya yang terlibat dalam kehidupan kita.

Bayangkan setiap suap nasi dan masakan yang kita makan, pastinya makanan kita setiap hari adalah hasil jerih payah petani hingga supir truk yang membawa bahan-bahan makanan kita sehingga memungkinkan untuk kita makan. Hal yang demikian adalah bentuk kebaikan Tuhan dan semesta kepada kita, yang mungkin tanpa pernah kita tahu siapa mereka atau bagaimana cara membalas kebaikan mereka. Menjadi relawan atau melakukan random kindness adalah salah satu cara untuk membayar kebaikan orang-orang yang berjasa dalam kehidupan kita.

Terlalu sederhana mungkin cara berpikir demikian, tapi pernah ada salahnya untuk berbuat baik. Cara pikir demikian bisa jadi salah satu alasan lain untuk menjadi relawan atau melakukan random kindness kepada orang yang tidak kita kenal. Dan percayalah selalu ada alasan untuk berbuat baik.

– –

Yogyakarta, 2 Januari 2014

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s