Toh Ini Ramadan.

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS. Ghafir: 60)

Dulu, ketika saya masih kecil dan belajar di madrasah sore dekat rumah saya, guru saya bercerita bahwa bulan Ramadan dibagi menjadi tiga bagian. Pada sepuluh hari pertama adalah ‘rahmat’ di mana pada sepuluh hari pertama ini Allah akan mengabulkan doa-doa yang kita panjatkan. Dengan kata lain, pada sepuluh hari ini Allah mengobral rahmat-Nya kepada mereka yang meminta dan memohon. Pada sepuluh hari kedua, adalah ‘maghfirah’ atau ampunan dan pada sepuluh hari yang terakhir adalah ‘itqum minan-naar’ yang berarti pembebasan dari api neraka.

Pada waktu berdoa setelah shalat tadi, saya teringat bahwa dulu, ketika saya masih kecil, sepuluh hari pertama menjadi bagian favorit saya selama Ramadan. Bukan karena semangat yang masih tinggi, tapi karena tawaran obral rahmat sebagaimana yang disabdakan Rasulullah. Maka, sebagai anak kecil saya memanfaatkan momentum favorit ini dengan meminta sebanyak-banyaknya, mulai dari mainan, uang jajan lebih hingga hal-hal yang nyaris mustahil seperti libur sekolah yang sangat panjang di luar puasa atau minta jadi presiden (serius, saya pernah minta untuk jadi presiden). Permintaan-permintaan ‘polos’ seperti ini yang pada akhirnya membuat saya duduk lebih lama setelah shalat untuk ‘menodong‘ Allah supaya mengabulkan permintaan saya.

Seiring jalannya waktu, akibat perginya kepolosan-kepolosan masa kecil dan banyaknya tanggung jawab yang harus dipikul (dan menurut beberapa orang akibat paham-paham sesat yang masuk ke kepala saya), saya tidak pernah meminta hal-hal semacam itu lagi. Biasanya doa setelah shalat lebih banyak berisi doa-doa standar dan tambahan doa untuk ibu dan almarhum bapak. Terlebih karena akal sehat (atau akal sesat) berkata pada saya untuk bekerja setelah berdoa, karena Tuhan tidak bekerja secara transaksional maka saya lebih memilih untuk bekerja setelah shalat.

Sekarang, pada sepuluh hari pertama Ramadan, saya diingatkan akan masa lalu tentang doa yang lebih lama untuk hal-hal sederhana dan terkadang menggelikan. Terlepas apapun isi permintaan dan motivasinya, saya duduk lebih lama untuk meminta. Mungkin awal Ramadan ini bisa jadi momentum untuk kembali duduk lama, mungkin tak ada salahnya buat meminta hal-hal yang lebih sederhana seperti sepotong pizza untuk buka puasa atau sebuah komputer baru. Kenapa tidak? Toh ini Ramadan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s