Cerita tentang Buku (dan Ironi)

Malam ini aku ingin bercerita tentang buku, kawan. Ya, buku yang baru setengah kubaca, judulnya “Ayah”. Aku tak tahu mengapa judulnya demikian, mungkin karena ada kisah tentang Amiru dan radio ayahnya. Atau cerita ayah Sabari yang bangga karena anaknya pandai berpuisi. Atau sekelebat cerita tentang Tamat, yang takut kualat karena ayahnya menamainya demikian supaya Ia menamatkan kuliah sebelum berpacaran.

Baru setengah buku itu kubaca kawan. Tapi terkesima sudah aku dengan kisah Markoni, yang memandang mulia pekerjaan sederhananya sebagai pembuat batako. Inspirasinya membuat batako datang saat Ia melihat anak-anak pulang sekolah. Ia ingin berpartisipasi dalam memajukan pendidikan bangsa, lewat bisnis batako.

Bukan apa kawan, pasalnya banyak orang yang tak mau menghargai pekerjaannya sendiri. Mereka kerap bilang, “saya sih cuma supir” atau “saya sih cuma petani kecil”, bahkan “apalah, saya ini cuma pegawai kantoran biasa”. Padahal mereka semua bisa jadi pahlawan, kawanku.

Ah tapi apalah arti tulisan ini, biasanya cuma jadi ironi. Aku sih cuma mahasiswa yang tak kunjung kelar skripsi. Bacanya novel pula, bukan buku skripsinya.

Yogya, Tengah Malam 14/09/15

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s