Tentang Jakarta

wpid-p_20151015_171938_1.jpg

Atas ‘kebaikan hati’ kantor tempat gue kerja, gue dikirim ke Jakarta buat dateng ke undangan seminar dari CSEAS yang bahas tentang ASEAN Economic Community, topik yang dekat tapi jauh dari studi gue. Berhubung ada libur Satu Syuro (1 Muharram) gue dengan senang hati ambil kesempatan itu sambil membayangkan panas dan macetnya Jakarta, lebih-lebih karena pembangunan MRT persis ada di depan komplek rumah gue. Akhirnya sampailah gue di Rumah, dalam artian tempat semua keluarga gue tinggal, dengan segala tetek-bengeknya.

Yak, akhirnya gue balik lagi jadi warga ibukota. Berangkat jam 6 pagi dari rumah untuk acara jam 9 di Grand Hyatt, ditambah salah ambil bis dan nyasar ke Kuningan karena gue main masuk aja ke bis yang lewat di halte busway. Dateng kecepetan setengah jam, karena ternyata kendaraan umum di Jakarta lebih bisa diandalkan daripada dulu, sebelum gue pindah ke Jogja, thanks to Ahok dan Jokowi. Datanglah gue ke acara seminar yang gue kira layout ruangnya adalah classroom, ternyata layoutnya adalah roundtable. Acara bakal jalan seharian, sampe jam 17.00 di Hyatt isinya komunitas diplomatik plus akademisi kawakan, sementara gue mahasiswa tua yang skripsi aja belom kelar. Jiper lah gue. Duduk semeja sama Dekan FE UAI, dosen Paramadina dan UNPAD, jurnalis senior ANTARA dan staf kedutaan Australia dan Kanada. Waktu coffee break yang 3 kali gue selalu ditanya “ngajar apa di UGM?”mungkin karena muka gue tua. Dan mereka langsung ngasih respon “ooh, masih kuliah S2 apa S3?” waktu gue bilang “saya masih kuliah, saya staf mahasiswa”, dan dilanjutkan dengan raut wajah yang gue gak tau apa maksudnya.

Pulang acara, gue langsung mampir ke kantor Kementerian PU & Perumahan Rakyat buat ketemu si Dilla yang sekarang kerja di sana. Sebelum ke kantornya Dilla, gue mampir dulu ke masjid Al Azhar, yang terakhir kali gue ke sana waktu SD bareng almarhum bokap. Kantor PU berubah banyak, tapi satu yang nggak berubah: bau rokok di lobby dan lorong-lorongnya. Sekarang makin banyak orang muda yang kerja di PU *ya iyalah*. Jadilah gue menghabiskan setengah malem cerita sama Dilla yang nangis sesenggukan pas diceritain perkembangan Project Child. Dia kangen banget sama kegiatan-kegiatan sosial semacam itu. Kita makan sampe malem, ngobrol banyak hal! Ditutup dengan pulang sambil nyobain naik Gojek.

Gue lahir di Jakarta dan hidup 18 taun di sana. Semenjak 5 taun terakhir gue terlelap dalam kehidupan damai nan lambat di Jogja. Semenjak pindah, gue selalu gak merasa ada di rumah kalo di Jakarta. Mungkin karena kalo gue pulang, gue lebih banyak untuk urusan santai banget, atau kerjaan banget. Tapi hari ini gue merasa ada di rumah lagi. Entah kenapa gue gak melihat Jakarta sebagai momok membosankan seperti yang gue bayangkan selama di Jogja. Hidup yang serba cepat dan dinamis hari ini, dan diakhiri dengan obrolan bareng sahabat bikin gue inget sama jaman dulu SMA.

Akhirnya, gue membuka kembali opsi untuk balik ke Jakarta lagi suatu saat. Mungkin balik jadi warganya suatu saat nanti. Siapa tahu?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s