Tentang Perang dan Perdamaian

Waktu kecil saya selalu ingin jadi tentara, banyak menonton film perang dan menganggap perang sebagai sesuatu yang keren dan jadi kesempatan untuk unjuk diri.

Sekarang, perang jadi salah satu hal yang paling saya takutkan. Saya takut kehilangan keluarga saya, sahabat-sahabat saya dan hal-hal lain yang saya cintai. Jika dulu waktu menonton film perang yang saya lihat adalah aksi heroik, sekarang yang saya lihat adalah rentetan tragedi. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya membunuh orang lain, baik dengan sengaja, di bawah perintah atau mempertahankan diri supaya tidak dibunuh oleh orang lain.

Sebagaimana yang dituturkan oleh orang-orang ini, ketika kita membunuh seseorang, kita mengambil seseorang yang berarti untuk orang lain. Mungkin ayah dari seorang anak, suami dari seorang ibu, atau anak dari seorang ibu lainnya. Persis seperti kata Khaled Hosseini, pangkal semua dosa adalah mencuri: membunuh berarti mencuri ayah dari anaknya, berbohong berarti mencuri kebenaran dari seseorang.

Di sisi lain, sulit rasanya membayangkan dunia yang tanpa perang. Nyaris utopis, dan akan ada lebih banyak lagi darah yang tumpah untuk mencapai dunia yang damai, itulah ironinya.

Saya bekerja dengan anak-anak, ada momen-momen di mana saya menjadi pesimis akan masa depan perdamaian, masa depan dunia ketika melihat anak-anak yang kami didik tidak menunjukkan apa yang kami harapkan. Tapi banyak juga momen-momen yang membangun optimisme saya terhadap masa depan dunia.

Saya harap anak-anak yang kami didik bisa jadi harapan dunia untuk perdamaian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s