Sahabat Kecil

Ini dua sahabat kecil saya, Adhytia Angga Syaputra yang paling loyal dan Zainudin Zuhri (Ari) yang baru saja melepas lajang. Setelah sekitar 20 tahun kami berteman, akhirnya kami punya foto bertiga.

Ari sekarang sudah jadi seorang suami, dan insya Allah dalam waktu dekat akan jadi calon Ayah. Dia paling berani di antara kita bertiga untuk ambil keputusan menanggung hidup orang lain. Angga baru saja lulus kuliah, siap menerima tantangan hidup yang baru. Mereka berdua tetap tinggal di Jakarta, menjaga Pasar Jumat, menjaga kenangan masa kecil kami bertiga dulu, walaupun tanah-tanah kosong tempat kami bermain dulu sudah disulap jadi gedung kantor atau pertokoan. Saya ambil jalan yang lebih pengecut, kabur dari Jakarta untuk menggemukkan badan di Jogja.

Masa kecil kami (khususnya masa kecil kedua teman saya ini) sangat berkesan. Kami berlumur tanah, penuh luka di kaki dan tangan kami (Ari punya jahitan karena jatuh dari sepeda, Angga juga punya karena jatuh dari pohon), kami (kecuali Ari) punya kulit gelap terbakar matahari. Kami belajar mengaji dari guru yang sama, tidak diajari membenci siapapun, bahkan Yahudi, kami diajari baca Quran dan menjadi orang yang baik untuk sesama. Kami sekolah di SD yang sama, menertawakan guru yang sama pula. Kami sama-sama tinggal di rumah susun, biasa naik turun bus kota.

Kami (setidaknya saya dan Angga, Ari seringkali jadi korban) selalu ingin punya lahan untuk ditanami. Dulu kami menanam pare, singkong atau apapun yang mudah ditanam di tanah kosong di sekitar rumah kami. Kami sangat naif dulu, kami kira tanah kosong itu bisa kami manfaatkan. Sekarang kami takut tidak bisa beli tanah untuuk rumah.

Sudah tujuh tahun saya merantau ke Yogyakarta, buat saya yang jarang pulang ke rumah, Jakarta makin asing tiap harinya. Tanah kosong di sebelah Stadion berubah jadi apartemen, tanah kosong di sebelah SD kami berubah jadi pusat perbelanjaan. Beberapa tahun kemudian stadion tempat kami latihan Taekwondo dulu berubah jadi stasiun MRT. Jakarta makin asing, makin tidak saya kenali. Tapi, selama saya bertemu kedua sahabat saya ini, Jakarta berubah jadi Jakarta yang bersahabat, seperti waktu dulu kami kecil.

– – –

Dari sekian banyak yang harus disyukuri hari ini, bolehlah saya bersyukur mempunyai mereka di masa kecil saya, sampai kapanpun

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s