Sekelebat tentang Zakat

Zakat itu kewajiban dan sekaligus hak orang-orang yang menerimanya, kewajiban sang muzakki  untuk memenuhi hak sang mustahiq. Sungguh disayangkan bahwa kerap kali para muzakki  menunaikan zakat dengan cara mengumpulkan orang-orang yang berhak dan membagikannya secara langsung sehingga banyak orang yang berdesak-desakan dan berpotensi menimbulkan kekacauan. Bahkan beberapa di antaranya mengundang/menarik media massa untuk meliput pembagian zakat yang bila berakhir ricuh berpotensi menimbulkan pandangan miring tentang esensi zakat dan zakat sebagai salah satu rukun Islam.

Jika melihat zakat sebagai kewajiban setiap Muslim yang mampu (muzakki) dan hak para mustahiq, maka logikanya adalah jika perlu muzakki yang harusnya datang dan dengan rendah hati melaksanakan kewajibannya dan memenuhi hak para mustahiq karena zakat pada hakikatnya adalah sarana mensucikan diri manusia.

Jakarta, 28 Agustus 2011

Hantu

wpid-p_20150928_161332_hdr_1.jpg

Hari ini saya dan beberapa kawan yang juga mahasiswa Hubungan Internasional pergi ke FKY 28. Sesampainya di sana kami ditawari untuk masuk ke tempat yang bernama “Bilik Sastra”. Yang disebut sebagai bilik sastra adalah sebuah ruang bertikar dengan sebuah kursi yang dilengkapi dengan mikrofon dan pengeras suara di mana seorang pembaca duduk di kursi dan membacakan karya-karya sastra kepada audiens-nya yang duduk di atas tikar yang dikelilingi kain kanvas.

Sang pembaca, saya lupa namanya, membacakan sebuah cerpen karya Umar Kayam yang berjudul “Lebaran Di Karet, Di Karet”. Cerpen tersebut menceritakan kisah seorang diplomat Deparlu (Kementerian Luar Negeri, Zaman Orde Baru) bernama Is yang tinggal di rumah besarnya pasca ditinggal meninggal Istrinya, Rani. Keduanya bertugas di New York sebagai utusan Indonesia di UN Headquarters.

Is mengutuki anak-anaknya yang hanya mengirimkan selembar kartu pos dengan satu-dua baris kata yang intinya menyampaikan bahwa mereka tidak bisa pulang karena sibuk dengan hidupnya masing-masing. Tinggallah Is, sendirian di rumah besarnya di waktu Lebaran, tanpa ditemani siapapun. Pergilah Ia mengendarai Toyota mobil dinas Deparlu ke pemakaman Karet, pemakaman paling terkenal di Jakarta, tempat istrinya ingin dimakamkan.

Sebuah kebetulan yang menyeramkan, empat orang anak rantau secara tidak sengaja masuk ke bilik sastra yang bercerita tentang kisah hidup seorang Diplomat, sebuah profesi yang sangat erat dengan studi sehari-hari kami. Dari sekian banyak bilik dan sekian banyak pembaca sastra, kami harus duduk dan mendengar cerita pedih sisi lain dari kesuksesan yang didamba-damba teman-teman kami.

Perjalanan kami malam ini ditutup oleh segelas teh tarik hingga lewat tengah malam, ditemani obrolan-obrolan ngalor-ngidul soal hantu hingga soal Pulau Buru. Tapi satu hantu yang menemani saya hingga di rumah malam ini: hantu tentang masa depan saya yang mungkin tak jauh dari kehidupan pak Is, dan hantu Ayah saya almarhum yang mungkin (semoga tidak) mengutuki anaknya yang satu ini, yang jarang pulang ke rumah karena kelewat sibuk mengurusi pohon hidupnya sendiri.

Minggu depan saya harus pulang ke Jakarta, bertemu ibu🙂

Yogyakarta, 4 September 2016

Refleksi Aksi 2 Mei 2016: World Class Mentality untuk World Class University

 

Aksi 2 Mei

Mengutip (sambil mengubah) perkataan sahabat saya bahwa pendidikan itu bukan cuma tentang duduk manis dan mengerjakan tugas di kelas. Atau bukan mengerjakan setumpuk tugas dan membaca tumpukan buku supaya tidak jadi berdebu.

Tujuan akhir pendidikan adalah untuk memanusiakan manusia, menciptakan manusia-manusia yang menggunakan intelektualitas dan nuraninya untuk kebaikan orang yang lebih banyak. Sebuah kegagalan jika pendidikan memproduksi orang-orang yang kompetitif dalam bersaing dengan mesin-mesin pencari kerja lainnya. Hari ini, atas ‘ajakan’ dari ibu Rektor, mahasiswa UGM berhasil membuktikan bahwa kuliahnya tidak sia-sia.

Jangan pernah lupa, tidak ada yang sempurna. Selama aksi tadi mungkin ada mahasiswa yang kelewatan, melemparkan satu-dua makian atau melakukan hal-hal yang mungkin tidak sopan. Itu perlu jadi catatan penting dalam membangun sikap elegan supaya kita tidak terjebak melakukan hal-hal negatif sebagaimana yang dilakukan oleh beberapa guru kita di radio tadi malam.

Terlepas dari apapun yang terjadi tanggal 2 Mei, yang penting adalah hari besok. Bagaimana mahasiswa bisa secara konsisten mengawal isu ini dan bagaimana Rektorat bisa mengembalikan kepercayaan mahasiswa dengan menjaga janji-janjinya hari ini.

Hal penting lainnya adalah membangun komunikasi positif antara guru dan murid. Dalam diskusi dengan beberapa teman malam ini, muncul sebuah pendapat bahwa “wajar saja anak-anak tidak sopan dengan orang tua, karena Universitas selama ini dikelola dengan perspektif konsumen-provider service, dimana mahasiswa membayar dan Universitas menyediakan layanan. Dalam perspektif ini, sopan santun tidak relevan”. Maka dari itu penting untuk menyediakan ruang komunikasi yang rutin dan terbuka.

Meminjam kutipan dari salah satu guru saya dalam diskusi malam ini: “Kita perlu world class mentality untuk menjadi world class university”.

– – – – – –

Yogyakarta 3 Mei 2016