Mencuri

Khaled Hossaini dalam novelnya, The Kite Runner bicara soal pencurian, dimana pencurian adalah dasar dari dosa-dosa lainnya.

Ketika engkau berbohong, maka engkau mencuri kebenaran dari seseorang. Ketika kau membunuh seseorang, maka mungkin engkau telah mencuri sosok ayah dari seorang anak.

Sekarang, mari bicara soal ketidakadilan. Ketika kita menindas orang lain, maka kita telah mencuri kebebasan seseorang. Dan mungkin, ketika kita mulai menghakimi orang lain dengan prasangka, lalu memaksakan orang lain untuk mengikuti apa yang kita percaya kita telah mencuri keadilan darinya.

Yang lebih parah? Bisa jadi kita telah mencuri hidayah Tuhan lewat perbuatan semena-mena kita dengan mengatasnamakan nama dan hukum-Nya.

Lawan dari mencuri adalah memberi. Dengan tersenyum kita bisa memberi sedikit kebahagiaan kepada orang lain. Dengan bersabar kita bisa memberi kesempatan untuk hidup yang lebih baik bagi orang lain. Dengan sebuah gurauan, kita bisa memberi tawa untuk orang lain.

Yang lebih baik? Dengan memahami keadaan dan merangkul orang lain, bisa jadi kita memberi jalan hidayah kepada orang lain.

Pepatah bilang, tangan di atas (memberi) lebih baik daripada tangan di bawah (meminta). Apalagi daripada tangan di belakang (mencuri). Rasul juga bilang, manusia terbaik adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Sekarang, terserah kepada kita. Apakah kita mau memberi, atau mencuri?

Menghakimi

Belakangan ini telepon genggam saya mulai riuh nyaris dua puluh empat jam setiap harinya. Keriuhan tersebut berasal dari notifikasi yang muncul dari grup alumni SD saya dulu. Keriuhan tersebut sangat wajar, untuk pertama kalinya dalam sebelas tahun terakhir kami berkomunikasi satu sama lain. Tak habis rasanya cerita-cerita tentang kepolosan kami di masa lalu, siapa suka dengan siapa, mereka yang melakukan hal-hal bodoh hingga perbincangan tentang guru-guru kami.

Di tengah keriuhan saya melihat satu-satu ‘wajah baru’ kawan-kawan lama saya ini. Agak aneh rasanya melihat foto mereka sekarang, pasalnya mereka yang saya kenal dan saya kenang adalah mereka yang polos, sebagaimana sebelas tahun yang lalu. Kini, saya melihat mereka menjalani hidup yang berbeda-beda satu sama lain, tapi sebagian besar jauh berbeda dari hidup saya sekarang. Tak jarang satu lirikan terhadap sebuah foto bisa berakhir pada asumsi-asumsi liar, tentang bagaimana seseorang menjalani hidupnya, bagaimana kedaannya sekarang dan seperti apa sifat baik dan buruknya. Nyatanya, kita tidak saling bertemu satu-sama lain selama sekitar sebelas tahun.

Yak, seringkali kita menghakimi seseorang atau sesuatu keadaan dengan sepotong informasi yang jauh dari cukup untuk membangun asumsi. Dari situ, muncullah asumsi-asumsi liar yang pada akhirnya berujung pada poor judgment suuzan atau penghakiman sepihak. Teringatlah saya pada cerita nabi Musa dan nabi Khidir yang berjalan, sementara nabi Musa selalu mempertanyakan apa yang dilakukan oleh nabi Khidir, semata-mata karena nabi Musa tidak melihat bigger picture dari sebuah kasus. Seberapa sering kita jadi ‘nabi Musa’ dalam kehidupan kita? Pasti lebih sering dari yang kita bayangkan.

Toh Ini Ramadan.

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS. Ghafir: 60)

Dulu, ketika saya masih kecil dan belajar di madrasah sore dekat rumah saya, guru saya bercerita bahwa bulan Ramadan dibagi menjadi tiga bagian. Pada sepuluh hari pertama adalah ‘rahmat’ di mana pada sepuluh hari pertama ini Allah akan mengabulkan doa-doa yang kita panjatkan. Dengan kata lain, pada sepuluh hari ini Allah mengobral rahmat-Nya kepada mereka yang meminta dan memohon. Pada sepuluh hari kedua, adalah ‘maghfirah’ atau ampunan dan pada sepuluh hari yang terakhir adalah ‘itqum minan-naar’ yang berarti pembebasan dari api neraka.

Pada waktu berdoa setelah shalat tadi, saya teringat bahwa dulu, ketika saya masih kecil, sepuluh hari pertama menjadi bagian favorit saya selama Ramadan. Bukan karena semangat yang masih tinggi, tapi karena tawaran obral rahmat sebagaimana yang disabdakan Rasulullah. Maka, sebagai anak kecil saya memanfaatkan momentum favorit ini dengan meminta sebanyak-banyaknya, mulai dari mainan, uang jajan lebih hingga hal-hal yang nyaris mustahil seperti libur sekolah yang sangat panjang di luar puasa atau minta jadi presiden (serius, saya pernah minta untuk jadi presiden). Permintaan-permintaan ‘polos’ seperti ini yang pada akhirnya membuat saya duduk lebih lama setelah shalat untuk ‘menodong‘ Allah supaya mengabulkan permintaan saya.

Seiring jalannya waktu, akibat perginya kepolosan-kepolosan masa kecil dan banyaknya tanggung jawab yang harus dipikul (dan menurut beberapa orang akibat paham-paham sesat yang masuk ke kepala saya), saya tidak pernah meminta hal-hal semacam itu lagi. Biasanya doa setelah shalat lebih banyak berisi doa-doa standar dan tambahan doa untuk ibu dan almarhum bapak. Terlebih karena akal sehat (atau akal sesat) berkata pada saya untuk bekerja setelah berdoa, karena Tuhan tidak bekerja secara transaksional maka saya lebih memilih untuk bekerja setelah shalat.

Sekarang, pada sepuluh hari pertama Ramadan, saya diingatkan akan masa lalu tentang doa yang lebih lama untuk hal-hal sederhana dan terkadang menggelikan. Terlepas apapun isi permintaan dan motivasinya, saya duduk lebih lama untuk meminta. Mungkin awal Ramadan ini bisa jadi momentum untuk kembali duduk lama, mungkin tak ada salahnya buat meminta hal-hal yang lebih sederhana seperti sepotong pizza untuk buka puasa atau sebuah komputer baru. Kenapa tidak? Toh ini Ramadan.

Surat Cinta

Secarik foto atau bau harum surat tak lagi akan kita rasakan

Yang ada hanyalah ribut ketukan tuts yang menyambung huruf di layar terang

Rangkai kata tak lagi punya lekuk khas yang terjalin di atas kertas bergaris

Karena serif atau sans-serif rapuh yang menghias

 

Adinda atau kakanda tak lagi jadi kata pembuka

Cinta dan sayang terkurung seratus enampuluh atau seratus empat puluh

Terangkum senyum ketik kaku

 

Ingin aku mencium wangi harum surat cintamu

Rapuh dan menggairahkan

 

Yogyakarta, 08 Juni 2012

Mary Jane Veloso

Mari kita berhenti sejenak dan sedikit meratap untuk mereka yang dipersetankan nasib dan nyaris kehilangan harapan akan jawaban yang tinggal sejengkal jaraknya. Karena bukan hanya satu-dua orang yang berdiri di titik nadir sekarang, dan mereka butuh sedikit dorongan dari ujung jari kita untuk pindah dari titik nadirnya.

Malam ini adalah titik harapan untuk seorang ibu yang dipersetankan nasib. Kepolosan hampir saja menempatkan dirinya di ujung senapan. Mary Jane Veloso namanya, saya tidak banyak mengikuti perkembangan beritanya. Hingga saja malam ini pemerintah menghentikan sementara hukum tembak mati untuknya. Malam ini jadi pengingat bahwa sebuah nyawa, layak untuk diselamatkan.

Whether the execution pushes through or not, I am confident that God doesn’t sleep and that he will make sure justice will prevail. – M. Jane Veloso.