Refleksi Aksi 2 Mei 2016: World Class Mentality untuk World Class University

 

Aksi 2 Mei

Mengutip (sambil mengubah) perkataan sahabat saya bahwa pendidikan itu bukan cuma tentang duduk manis dan mengerjakan tugas di kelas. Atau bukan mengerjakan setumpuk tugas dan membaca tumpukan buku supaya tidak jadi berdebu.

Tujuan akhir pendidikan adalah untuk memanusiakan manusia, menciptakan manusia-manusia yang menggunakan intelektualitas dan nuraninya untuk kebaikan orang yang lebih banyak. Sebuah kegagalan jika pendidikan memproduksi orang-orang yang kompetitif dalam bersaing dengan mesin-mesin pencari kerja lainnya. Hari ini, atas ‘ajakan’ dari ibu Rektor, mahasiswa UGM berhasil membuktikan bahwa kuliahnya tidak sia-sia.

Jangan pernah lupa, tidak ada yang sempurna. Selama aksi tadi mungkin ada mahasiswa yang kelewatan, melemparkan satu-dua makian atau melakukan hal-hal yang mungkin tidak sopan. Itu perlu jadi catatan penting dalam membangun sikap elegan supaya kita tidak terjebak melakukan hal-hal negatif sebagaimana yang dilakukan oleh beberapa guru kita di radio tadi malam.

Terlepas dari apapun yang terjadi tanggal 2 Mei, yang penting adalah hari besok. Bagaimana mahasiswa bisa secara konsisten mengawal isu ini dan bagaimana Rektorat bisa mengembalikan kepercayaan mahasiswa dengan menjaga janji-janjinya hari ini.

Hal penting lainnya adalah membangun komunikasi positif antara guru dan murid. Dalam diskusi dengan beberapa teman malam ini, muncul sebuah pendapat bahwa “wajar saja anak-anak tidak sopan dengan orang tua, karena Universitas selama ini dikelola dengan perspektif konsumen-provider service, dimana mahasiswa membayar dan Universitas menyediakan layanan. Dalam perspektif ini, sopan santun tidak relevan”. Maka dari itu penting untuk menyediakan ruang komunikasi yang rutin dan terbuka.

Meminjam kutipan dari salah satu guru saya dalam diskusi malam ini: “Kita perlu world class mentality untuk menjadi world class university”.

– – – – – –

Yogyakarta 3 Mei 2016

Soal LGBT

Soal LGBT ini kenapa jadi pada ribut-ribut? Dibahas boleh, ribut-ribut nggak usahlah berlebihan.

Iya saya paham LGBT itu dosa dan dilarang menurut hukum agama. Tapi saya kira mencampuri hidup orang lain dan merespon dengan cercaan bukan solusi yang baik. Jika memang teman-teman “takut” dengan ide-ide LGBT dan takut ide-ide itu disebarluaskan, menurut hemat saya, silahkan “lindungi” orang-orang di sekitar anda dengan cara yang baik dan elegan. Tidak usahlah ketakutan setengah mati dan bereaksi berlebihan.

Kalau tujuannya mengajak orang ke kebaikan, kekerasan bukan solusi. Kalau mau mengirim orang ke neraka dengan cap ini-itu, silahkan, saya kira itu bukan tujuan agama apapun.

Jangan lupa, semua orang, apapun yang mereka pahami adalah makhluk ciptaan Tuhan. Jikalau mereka memilih suatu paham, ide dan gagasan silahkan hormati mereka. Jika memang anda mau memberikan perspektif lain dengan harapan orang tersebut mau mengubah cara pandangnya, silakan, tapi dengan cara yang baik dan damai.

Lebih gampang nggak sih, hidup dengan manusia lain itu dilihat dulu mereka sebagai manusia yang sama dan setara dengan kita, setelah itu apapun ide/agama/gagasan yang mereka anut kita jadikan pertimbangan ke-sekian setelah kebaikan-kebaikan mereka? Saya kira manusia tidak punya wewenang melebihi Tuhan untuk menghakimi orang sebagai penghuni neraka, sesat atau label-label negatifnya.

Yogyakarta, 28 Januari 2016

Istanbul

fb_img_1452707232193.jpg

Hari ini darah tumpah di Istanbul.

Setiap tumpahan darah adalah tragedi. Pembunuhan terhadap orang-orang tak bersalah, apapun rasnya, apapun agamanya, apapun ideologinya tetaplah pembunuhan dan tidak dapat dibenarkan. Tidak di Paris, tidak di Palestina dan tidak di Istanbul, tidak akan pernah dibenarkan.

#PrayforIstanbul

Lorem Ipsum Dolor Sit Amet

wpid-p_20151121_110657_1.jpg

Lorem ipsum dolor sit amet.

Memulai kalimat pertama dalam sebuah paragraf bukanlah sebuah hal yang mudah. Namun, sekali engkau menyelesaikan kalimat pertama, semuanya menjadi lebih mudah. Sekali engkau memulai, tetaplah menulis, jangan lepaskan jarimu dari pena hingga selesai satu atau dua paragraf. Biarkan jarimu menari di atas putihnya kertas.

Torehkan goresan tintamu, sedikit demi sedikit. Biarkan itu menjadi bagian dari dirimu dan menjadi bagian dari sejarah dunia. Biarkan gagasan-gagasanmu tertuang dengan liar atau dengan diam di atas kertas, biarkan kata-kata itu yang berteriak untukmu. Biarkan maknanya jadi arti dalam kehidupanmu, kalau bisa juga untuk kehidupan manusia lain. Biarlah goresan penamu jadi hadiahmu untuk dunia.

Menulis atau terlupakan.