Empat Paragraf tentang Skripsi

Ini tulisan pertama gue yang pake bahasa agak santai dari biasanya. Kenapa? Karena bahasannya serius banget, tentang skripsi. Jadi udah setengah tahun lebih gue berkutat sama pertanyaan orang-orang di sekitar gue, gak peduli itu temen, keluarga, adek kelas, guru-guru SMA, temen kerja atau dosen-dosen di kampus, semua nanya gue kapan gue mulai skripsi dan punya niat buat lulus. Dilematis emang kalo udah bahas soal yang satu ini. Ini dia halangan terakhir gue sebelum pindah dari status ‘harapan bangsa’ ke status ‘beban negara’ alias dari mahasiswa jadi pengangguran. Gue gak punya alasan pasti dan fix soal kenapa gue gak mulai skripsi gue.

Dalam titik yang kayak gini, gue kira skripsi itu macam bisul yang ngeganggu, macam noda cokelat tak mau hilang di kloset. Sampe saat ini gue ngeliat skripsi sebagai satu-satunya syarat kelulusan itu semacam paksaan yang gak relevan di sistem pendidikan kita. Kenapa gue bilang begitu, karena banyak banget skripsi yang cuma jadi makanan rayap di perpustakaan. Dengan kata lain, skripsi yang dipaksakan cuma bakal mirip onani pemikiran dan buang-buang kertas. Dengan banyaknya macem-macem kepribadian orang, skripsi cuma ngasih kita opsi cara lulus sebagai akademisi, padahal katanya universitas selalu mendorong orang buat siap di dunia kerja. Sialnya skripsi jadi satu-satunya syarat kelulusan yang manfaatnya cuma gelar beberapa huruf di belakang nama, yang harganya gak mahal-mahal amat dibandingin sama pengalaman yang lo punya.

Dilihat dari sisi kebermanfaatan, gue kira kita mesti mempertimbangkan banyak alternatif lain dari skripsi sebagai syarat buat lulus kuliah. Kalo logikanya universitas, negara dan siapapun itu pengen lulusan universitas jadi tenaga terampil, siap di dunia kerja atau jadi pemimpin mestinya kita punya alternatif lain yang bisa mempersiapkan itu. Ada banyak alternatif, contohnya magang supaya orang yang mau kerja di birokrasi atau korporat bisa lebih familiar atau bahkan bisa langsung nerapin ilmu-ilmunya yang masih fresh dan update di tempat yang membutuhkan. Kalo mau nyiapin anak-anak muda ini jadi pemimpin, kenapa gak waktu ngerjain skripsi yang berbulan-bulan itu diganti jadi program-program sosial, mahasiswa tingkat akhir dikirim untuk ngelarin satu masalah di tempat tertentu berdasarkan ilmunya. Atau buat mereka yang mau jadi wirausahawan, syarat lulusnya bisa diganti jadi buat usaha dengan standar tertentu, pokoknya bisa diatur.

Utopis? Kalo belom dicoba kita gak pernah tau.

Tai Kucing

Belakangan media ramai membahas manuver politik Polri terhadap KPK dengan melakukan kriminalisasi terhadap Wakil Ketua KPK sebagai buntut penetapan calon Kapolri sebagai tersangka oleh KPK. Semua sandiwara tolol ini terjadi seakan-akan rakyat begitu lugu dan bodoh, padahal logika sederhana manusia sehat pasti tahu ada yang salah dengan Polri hari ini. Bagaimana bisa Polisi menangkap seorang pejabat negara yang punya sangkutan hukum lima tahun lalu pada waktu sesulit sekarang. Bagaimanapun juga logika manusia sehat akan mempertanyakan profesionalitas Polisi yang butuh waktu lima tahun untuk mengusut kasus seperti ini.

Tapi apalah daya, nampaknya orang mudah sekali lupa dengan apa-apa yang sudah pernah terjadi. Yang terparah adalah kita dengan bodohnya mengulangi hal yang sama.

Saya sengaja tak mengikuti perkembangan kasus ini. Cerita lama tai kucing. Daripada buang-buang waktu lihat media tolol dan meracuni pikir, ditambah komentar-komentar para reaksioner bigot lebih baik saya kerjakan skripsi sambil bantu-bantu orang di sekitar saya.

Sok suci? Persetan, bukan urusanmu.

– –

Kaliurang, tengah malam 24 01 15

Bandara Pagi Hari

image

Ibu kota lebih kejam daripada ibu tiri katanya. Delapan belas tahun saya hidup di Jakarta dan empat tahun belakangan bolak-balik Jakarta – Jogja, saya kira Jakarta belum begitu ramah pada saya. Sampai pada pagi buta ini saya yang tanpa tidur harus mengejar pesawat jam empat pagi.

Semua dimulai dari sapaan ramah petugas Bus Damri. Keberangkatan pertama Bus Damri jam 3 pagi, berarti para petugas harus siap setidaknya dua jam sebelum keberangkatan. Mereka masih saja tersenyum ramah dan berbagi tawa dengan para penumpangnya. Menjawab ucapan terima kasih dengan antusias saat saya turun dari bus.

Tak lama setelah itu, saya disapa oleh seorang petugas Angkasapura, yang nampaknya seumuran dengan saya. Pagi buta kami sudah bertukar senyum dan menemukan kesamaan-kesamaan di antara kami. Alhasil, kami mendoakan semoga sukses pada satu sama lain.

Sekarang saya menulis di samping seorang yang baru saja membeli tiket penerbangan ke Jogja karena temannya harus dioperasi pagi ini. Tak lama kami mengobrol di antrian boarding dia sudah menawarkan tiket gratis berwisata di Ciater, Bandung.

Mungkin Jakarta memang kejam, tapi di waktu dan tempat yang tepat kita masih bisa menemukan senyum dan keramahan tersembunyinya.

Terminal 3, 19 Januari 2015
Abie Zaidannas