Soal LGBT

Soal LGBT ini kenapa jadi pada ribut-ribut? Dibahas boleh, ribut-ribut nggak usahlah berlebihan.

Iya saya paham LGBT itu dosa dan dilarang menurut hukum agama. Tapi saya kira mencampuri hidup orang lain dan merespon dengan cercaan bukan solusi yang baik. Jika memang teman-teman “takut” dengan ide-ide LGBT dan takut ide-ide itu disebarluaskan, menurut hemat saya, silahkan “lindungi” orang-orang di sekitar anda dengan cara yang baik dan elegan. Tidak usahlah ketakutan setengah mati dan bereaksi berlebihan.

Kalau tujuannya mengajak orang ke kebaikan, kekerasan bukan solusi. Kalau mau mengirim orang ke neraka dengan cap ini-itu, silahkan, saya kira itu bukan tujuan agama apapun.

Jangan lupa, semua orang, apapun yang mereka pahami adalah makhluk ciptaan Tuhan. Jikalau mereka memilih suatu paham, ide dan gagasan silahkan hormati mereka. Jika memang anda mau memberikan perspektif lain dengan harapan orang tersebut mau mengubah cara pandangnya, silakan, tapi dengan cara yang baik dan damai.

Lebih gampang nggak sih, hidup dengan manusia lain itu dilihat dulu mereka sebagai manusia yang sama dan setara dengan kita, setelah itu apapun ide/agama/gagasan yang mereka anut kita jadikan pertimbangan ke-sekian setelah kebaikan-kebaikan mereka? Saya kira manusia tidak punya wewenang melebihi Tuhan untuk menghakimi orang sebagai penghuni neraka, sesat atau label-label negatifnya.

Yogyakarta, 28 Januari 2016

fb_img_1452707232193.jpg

Istanbul

Hari ini darah tumpah di Istanbul.

Setiap tumpahan darah adalah tragedi. Pembunuhan terhadap orang-orang tak bersalah, apapun rasnya, apapun agamanya, apapun ideologinya tetaplah pembunuhan dan tidak dapat dibenarkan. Tidak di Paris, tidak di Palestina dan tidak di Istanbul, tidak akan pernah dibenarkan.

#PrayforIstanbul

Lorem Ipsum Dolor Sit Amet

wpid-p_20151121_110657_1.jpg

Lorem ipsum dolor sit amet.

Memulai kalimat pertama dalam sebuah paragraf bukanlah sebuah hal yang mudah. Namun, sekali engkau menyelesaikan kalimat pertama, semuanya menjadi lebih mudah. Sekali engkau memulai, tetaplah menulis, jangan lepaskan jarimu dari pena hingga selesai satu atau dua paragraf. Biarkan jarimu menari di atas putihnya kertas.

Torehkan goresan tintamu, sedikit demi sedikit. Biarkan itu menjadi bagian dari dirimu dan menjadi bagian dari sejarah dunia. Biarkan gagasan-gagasanmu tertuang dengan liar atau dengan diam di atas kertas, biarkan kata-kata itu yang berteriak untukmu. Biarkan maknanya jadi arti dalam kehidupanmu, kalau bisa juga untuk kehidupan manusia lain. Biarlah goresan penamu jadi hadiahmu untuk dunia.

Menulis atau terlupakan.

Tentang Perang dan Perdamaian

Waktu kecil saya selalu ingin jadi tentara, banyak menonton film perang dan menganggap perang sebagai sesuatu yang keren dan jadi kesempatan untuk unjuk diri.

Sekarang, perang jadi salah satu hal yang paling saya takutkan. Saya takut kehilangan keluarga saya, sahabat-sahabat saya dan hal-hal lain yang saya cintai. Jika dulu waktu menonton film perang yang saya lihat adalah aksi heroik, sekarang yang saya lihat adalah rentetan tragedi. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya membunuh orang lain, baik dengan sengaja, di bawah perintah atau mempertahankan diri supaya tidak dibunuh oleh orang lain.

Sebagaimana yang dituturkan oleh orang-orang ini, ketika kita membunuh seseorang, kita mengambil seseorang yang berarti untuk orang lain. Mungkin ayah dari seorang anak, suami dari seorang ibu, atau anak dari seorang ibu lainnya. Persis seperti kata Khaled Hosseini, pangkal semua dosa adalah mencuri: membunuh berarti mencuri ayah dari anaknya, berbohong berarti mencuri kebenaran dari seseorang.

Di sisi lain, sulit rasanya membayangkan dunia yang tanpa perang. Nyaris utopis, dan akan ada lebih banyak lagi darah yang tumpah untuk mencapai dunia yang damai, itulah ironinya.

Saya bekerja dengan anak-anak, ada momen-momen di mana saya menjadi pesimis akan masa depan perdamaian, masa depan dunia ketika melihat anak-anak yang kami didik tidak menunjukkan apa yang kami harapkan. Tapi banyak juga momen-momen yang membangun optimisme saya terhadap masa depan dunia.

Saya harap anak-anak yang kami didik bisa jadi harapan dunia untuk perdamaian.