Today is a Gift

“Yesterday is history, tomorrow is a mystery, today is a gift of God, which is why we call it the present.” – Bil Keane

Terkadang saya melihat orang-orang pintar yang merasa aman dengan buku-buku dan teori-teori yang mereka ketahui, dan saya merasa kasihan kepadanya. Karena ada kalanya mereka melihat terlalu jauh, membangun prediksi-prediksi yang pesimis seakan dunia tak akan jadi lebih baik. Dengan perspektif ini dan teori itu, mereka mengkhawatirkan kejadian-kejadian buruk di hari esok.

Sementara saya melihat petani-petani yang ada di batas kesusahan hidup tapi cuma senyum dan rasa syukur yang tergambar di wajahnya. Mereka hidup untuk hari ini, tak pernah mengkhawatirkan hari esok yang belum tentu datang.

Karena Sahabat Saya Hebat-Hebat

Tadi malam saya pergi makan dengan seorang junior, sembari menunggu jam pertemuan dengan Mas Agus, sementara grup WhatsApp ‘Buhulkatze’ agak ramai. Pasalnya Fara baru saja pergi meninggalkan kami (bukan meninggal) untuk pengabdian di pesantren sebagai konsekuensi buat dia yang makan uang beasiswa dari Kementerian Agama.  Singkat cerita, Fara habis kami bully dan saya diomeli oleh ibu-ibu penghuni grup karena candaan saya yang terlalu tinggi level saru-nya (ini opini mereka lho, menurut saya sih gak masalah).

image

Di warung nasi goreng Pasar Kranggan yang dingin akibat gerimis itu tiba-tiba saya teringat pertanyaan Bara waktu saya antar ke bandara pekan lalu: “gimana sih ceritanya kita bisa temenan terus jadi ‘geng’ macam gini?”. Usut punya usut si Bara dapat pertanyaan di Ask.fm nya yang intinya tidak jauh beda dari pertanyaan Bara malam itu. Bara sudah jawab dengan jawaban versi-nya (yang menurut Felix kelewat bagus, yang ujung-ujungnya bikin Felix jadi gak enak hati) dan sekarang saya mau jawab pertanyaan yang gak ditanyakan ke saya itu dengan versi sendiri.

– – – –

Mari kita mulai dengan sebuah pernyataan kalau persahabatan itu sesuatu yang alami dan tumbuh seiring dengan jalannya waktu. Maka karena itu sulit untuk menetapkan kapan tepatnya waktu kami mulai bersahabat. Soalnya kami berasal dari tempat yang berbeda-beda, dan dari latar belakang berbeda beda. Meminjam analogi-nya si Robie, kami ini ibarat hidangan di meja makan, berbeda-beda tapi saling melengkapi. Ibarat nasi dari beras Cianjur, bertemu ikan asin dari Cilacap, ditambah sambel terasi dari Cirebon dilengkapi sama segelas kopi dari Makassar. Kurang enak rasanya jika dinikmati secara terpisah.

16386587485_7c1ef2ff74_k

Hadza dan Nyai

Orang pertama yang saya kenal di lingkaran persahabatan ini adalah Hadza (alias Haja, alias Joha, alias Nasrudin). Hadza adalah anak HI pertama yang saya add Facebook-nya karena sama-sama Tarbiyah. Saya masih ingat chat Facebook pertama kami, masih pake ‘ane-ente’ buat nego soal kos-kosan, yang pada akhirnya kami ‘tersesat’ bersama di banyak organisasi, mulai liqo-an, Komahi, Dema Fisipol sampai dalam beberapa kesempatan Hadza saya seret ke kegiatan politik FLP. Kalau katanya Bara pekan lalu, ‘kita tinggal tunggu Hadza jadi pejabat, terus kita bantu dia buat ngebenerin negara ini‘. Hal lain yang berkesan dari Hadza ini adalah kesabaran dia berteman sama saya, pasalnya saya sering minta bantuan akademis yang kadang-kadang agak ilegal, khususnya di semester-semester awal, mungkin karena saya se-liqo sama dia.

Setengah Aul Setengah Bukan

Setengah Aul Setengah Bukan

Setelah Hadza, ada Aul (alias Owlie, alias Ummu Musthofa, alias ‘Peniup Buhul-Buhul). Pertama kenal, kalau tidak salah pertama kenal waktu ospek Fakultas. Dia punya kemampuan khusus meramal dan memprediksi masa depan dengan meniup buhul-buhul. Penjelasan kenapa dia bisa jadi sahabat saya mungkin lewat program Darahrurat kami. Bersama teman-teman yang lain, kami jadi penghuni tetap UPTD RSUP Sardjito di tahun-tahun awal kuliah kami. Anak lurah yang satu ini sangat kesepian, sehingga dia sering berkeluyuran makan sendirian dan kemudian mengirim chat yang mengajak kami makan di tempat dia makan. Strategi bagus untuk para ahli wacana macam anggota grup ini. Aulia ini biasanya jadi jangkar moral di pertemanan kami alias sering negor kalau kami sudah sedikit kelewatan.

Nyi Fara

Nyi Fara (Muka Disamarkan)

Setelah Aul, ada Fara (alias Nyi Farha, alias ‘Disitu Kadang Saya Merasa Sedih’). Teman Buddy System saya yang baru ingat kalau kita se-buddy belakangan setelah lama berteman. Nona satu ini adalah korban kejahatan saya dan Bara, yang lucunya, kalau kita makan bareng selalu duduk di antara saya dan Bara. Fara ini juga anggota Darahrurat walaupun setiap donor darah dia selalu pingsan (disitu kadang saya merasa sedih) karena berat badannya kurang. Dengan badan sekecil kurcaci dia masih punya nyali besar (atau nekat) donor darah juga. Sekarang dia harus menunda perkawinannya akibat pengabdian di Pesantren Nurul Syahwat.

Mascodet dari Sisi Non-Codet

Mascodet dari Sisi Non-Codet

Ada Fara berarti ada Bara (alias Mascodet, alias Grandestatista). Entah kenal di mana dan gimana ceritanya bisa jadi teman. Yang pasti sepanjang perjalanan persahabatan kami, sudah banyak hal gila yang kami jalani bersama, mulai jalan-jalan tanpa rencana ke Bromo (Brokeback Mountain) sampai menghentikan lift di tengah lantai 3 dan 4 kampus. Mas yang satu ini memang cerdas, selalu jadi andalan untuk pekerjaan-pekerjaan yang menggunakan pikiran walaupun terkadang suka susah dicari karena suka menghilang secara misterius. Berkat si Bara, saya punya pengalaman tidur di pesantren dan dibanguni dengan toa beberapa jam setelahnya. Di akhir-akhir masa kuliah Bara membantu saya di FLP UGM selama dua tahun belakangan. Sejak saat itu kami jadi partner in crime.

15766574563_d317ae011a_k

Nyuy (yang Histeris di Tengah)

Setelah bara ada Nuri (alias Nyuy, alias Mak Rempong). Kenal di Komahi Divisi Internal. Mulai jadi sahabat di program Darahrurat, putri dari keluarga ningrat feodal satu ini adalah anak yang paling aktif organisasi cewek-cewek lainnya. Kita pernah bersama di BEM KM 2012 dan Dema Fisipol. Hobinya tertawa, warna kesukaannya merah jambu. Selalu jadi orang yang pertama ketawa jika ada lawakan dan selalu jadi orang pertama yang ngamuk kalau bercanda kelewatan.

Koh Felix, Tionghoa sebelah Kiri

Koh Felix, Tionghoa sebelah Kiri

Anggota terakhir kami adalah Koh Felix (alias Felix Bumbox). Pertama kenal di Internal Komahi, penggemar Korea yang satu ini punya hidup yang paling menarik dibandingkan yang lain dalam beberapa tahun terakhir. Dia berani ambil keputusan yang sulit untuk dibayangkan oleh orang lain. Manusia satu ini sangat setia dan sensitif (dalam arti positif) kalau sudah jadi teman. Walaupun sering dirundung masalah, Koh Felix selalu move on dari masalah dan jalan terus menghadapi tantangan hidup. Hadirnya Koh Felix, membuat lingkaran persahabatan ini jadi lebih interracial dan diverse karena candaan rasis kami tidak diambil serius.

– – –

Nah tulisan ini berakhir kepada pertanyaan yang senantiasa ditanyakan orang kepada saya, “kenapa kamu jadi gemuk gitu di Jogja?“. Mungkin tak ada hubungannya, tapi saya percaya ini jawabannya: “karena sahabat saya hebat-hebat, jadi saya hidup bahagia di Jogja. Tanpa mereka saya gak akan sebahagia ini. Apalagi mereka suka makan-makan di waktu malam.”

Ya, karena sahabat saya hebat-hebat :)

Empat Paragraf tentang Skripsi

Ini tulisan pertama gue yang pake bahasa agak santai dari biasanya. Kenapa? Karena bahasannya serius banget, tentang skripsi. Jadi udah setengah tahun lebih gue berkutat sama pertanyaan orang-orang di sekitar gue, gak peduli itu temen, keluarga, adek kelas, guru-guru SMA, temen kerja atau dosen-dosen di kampus, semua nanya gue kapan gue mulai skripsi dan punya niat buat lulus. Dilematis emang kalo udah bahas soal yang satu ini. Ini dia halangan terakhir gue sebelum pindah dari status ‘harapan bangsa’ ke status ‘beban negara’ alias dari mahasiswa jadi pengangguran. Gue gak punya alasan pasti dan fix soal kenapa gue gak mulai skripsi gue.

Dalam titik yang kayak gini, gue kira skripsi itu macam bisul yang ngeganggu, macam noda cokelat tak mau hilang di kloset. Sampe saat ini gue ngeliat skripsi sebagai satu-satunya syarat kelulusan itu semacam paksaan yang gak relevan di sistem pendidikan kita. Kenapa gue bilang begitu, karena banyak banget skripsi yang cuma jadi makanan rayap di perpustakaan. Dengan kata lain, skripsi yang dipaksakan cuma bakal mirip onani pemikiran dan buang-buang kertas. Dengan banyaknya macem-macem kepribadian orang, skripsi cuma ngasih kita opsi cara lulus sebagai akademisi, padahal katanya universitas selalu mendorong orang buat siap di dunia kerja. Sialnya skripsi jadi satu-satunya syarat kelulusan yang manfaatnya cuma gelar beberapa huruf di belakang nama, yang harganya gak mahal-mahal amat dibandingin sama pengalaman yang lo punya.

Dilihat dari sisi kebermanfaatan, gue kira kita mesti mempertimbangkan banyak alternatif lain dari skripsi sebagai syarat buat lulus kuliah. Kalo logikanya universitas, negara dan siapapun itu pengen lulusan universitas jadi tenaga terampil, siap di dunia kerja atau jadi pemimpin mestinya kita punya alternatif lain yang bisa mempersiapkan itu. Ada banyak alternatif, contohnya magang supaya orang yang mau kerja di birokrasi atau korporat bisa lebih familiar atau bahkan bisa langsung nerapin ilmu-ilmunya yang masih fresh dan update di tempat yang membutuhkan. Kalo mau nyiapin anak-anak muda ini jadi pemimpin, kenapa gak waktu ngerjain skripsi yang berbulan-bulan itu diganti jadi program-program sosial, mahasiswa tingkat akhir dikirim untuk ngelarin satu masalah di tempat tertentu berdasarkan ilmunya. Atau buat mereka yang mau jadi wirausahawan, syarat lulusnya bisa diganti jadi buat usaha dengan standar tertentu, pokoknya bisa diatur.

Utopis? Kalo belom dicoba kita gak pernah tau.