Malam

Malam datang dan sebagian besar manusia pergi ke peraduan untuk beristirahat. Beberapa akan terbangun di pagi (atau siang) hari, dan beberapa lainnya tidak akan pernah membuka matanya lagi karena kembali kepada Tuhannya.

Sebagian baru saja meninggalkan rumah dan bersiap memulai harinya. Beberapa orang memilih hidup di malam hari karena mereka tak punya pilihan lainnya. Sebagian lainnya, yang cukup beruntung (atau sial, kita tidak pernah tahu) memilih untuk hidup di malam hari karena benci dengan kegaduhan siang hari yang penuh dengan perebutan ini-itu dari dunia. Mereka yang mencintai malam paham betul bahwa di malam hari, cinta menjadi lebih semerbak. Dari cinta seorang ibu yang bersiap menidurkan anaknya hingga cinta dua orang pezina di hotel murahan di seberang terminal.

Sayangnya, seringkali dunia tidak berpihak kepada orang-orang malam. Namun, orang malam tidak pernah ambil pusing karena malam telah menjadi dunia baru untuk mereka. Dunia yang tenang, nyaris tanpa ekspektasi.

Advertisements

Ibu Rental

Malam ini saya membereskan beberapa dokumen terserak di atas meja kerja saya di rumah. Saya menemukan sebuah blocknote kuning, yang di dalamnya ada beberapa catatan kuliah tahun 2012 dulu.

Ada 2 paragraf singkat di akhir salah satu halaman tertanggal 12 Mei 2012:

“Tempo hari saya bertemu seorang ibu tua yang saya tak pernah ingat siapa namanya. Ia mengabarkan bahwa kakaknya telah meninggal dunia. Saya ingat betul siapa kakaknya, yang saya juga tak pernah tahu siapa namanya. Saya hanya ingat, saya dan adik saya biasa memanggilnya ‘ibu rental’.

Ibu rental memiliki kios kecil di pinggir jalan Pasar Jumat, menyediakan jasa rental komputer dan printer. Sayangnya, semua peralatan ibu ini sama seperti pemiliknya, sudah renta. Banyak virus yang membuat komputer lamanya semakin lambat. Saya selalu mengira ibu ini hamil, sampai saya tahu dari ceritanya, bahwa gemuk di badannya adalah tumor. Selamat jalan bu, semoga engkau tenang di sisi-Nya.”

– – –

Sudah lewat 10 tahun sejak kali pertama saya masuk ke kios kecil tak terawat milik Ibu Rental. Ibu itu hampir buta dulu waktu pertama kali saya bertemu beliau. Saya biasa meluangkan 10-15 menit saya setelah mencetak tugas sekolah saya di sana untuk berbincang dengan beliau. Terkadang membantu beliau untuk membersihkan virus di komputernya, atau sesekali waktu melayani pelanggan yang datang untuk mencetak beberapa lembar dokumen di sana, atau bahkan membawa pulang pekerjaan ketikan yang diterima ibu rental. Rasa-rasanya saya seperti pegawai di sana, belajar bekerja untuk pertama kalinya.

Saya masih ingat beberapa cerita dari ibu rental. Satu yang paling saya ingat adalah cerita tentang tragedi 65 di wilayah Pasar Jumat, cerita tentang tentara yang membawa kepala desa akibat ia memiliki senapan buatan Tiongkok di bawah ranjangnya.

Sekarang ibu rental sudah lebih dari 5 tahun meninggal. Saya sendiri terakhir bertemu dengannya sekitar tahun 2009, setelah itu saya jarang mencetak tugas di sana sejak saya bisa mencetak tugas di sekolah. Di tahun itu juga kios rental komputer miliknya tutup dan dijual. Saya tidak pernah berkesempatan bertemu beliau lagi.

Semoga beliau diberikan tempat terbaik di sisi-Nya. Amin.

Yogyakarta, 29 Maret 2017

Sahabat Kecil

Ini dua sahabat kecil saya, Adhytia Angga Syaputra yang paling loyal dan Zainudin Zuhri (Ari) yang baru saja melepas lajang. Setelah sekitar 20 tahun kami berteman, akhirnya kami punya foto bertiga.

Ari sekarang sudah jadi seorang suami, dan insya Allah dalam waktu dekat akan jadi calon Ayah. Dia paling berani di antara kita bertiga untuk ambil keputusan menanggung hidup orang lain. Angga baru saja lulus kuliah, siap menerima tantangan hidup yang baru. Mereka berdua tetap tinggal di Jakarta, menjaga Pasar Jumat, menjaga kenangan masa kecil kami bertiga dulu, walaupun tanah-tanah kosong tempat kami bermain dulu sudah disulap jadi gedung kantor atau pertokoan. Saya ambil jalan yang lebih pengecut, kabur dari Jakarta untuk menggemukkan badan di Jogja.

Masa kecil kami (khususnya masa kecil kedua teman saya ini) sangat berkesan. Kami berlumur tanah, penuh luka di kaki dan tangan kami (Ari punya jahitan karena jatuh dari sepeda, Angga juga punya karena jatuh dari pohon), kami (kecuali Ari) punya kulit gelap terbakar matahari. Kami belajar mengaji dari guru yang sama, tidak diajari membenci siapapun, bahkan Yahudi, kami diajari baca Quran dan menjadi orang yang baik untuk sesama. Kami sekolah di SD yang sama, menertawakan guru yang sama pula. Kami sama-sama tinggal di rumah susun, biasa naik turun bus kota.

Kami (setidaknya saya dan Angga, Ari seringkali jadi korban) selalu ingin punya lahan untuk ditanami. Dulu kami menanam pare, singkong atau apapun yang mudah ditanam di tanah kosong di sekitar rumah kami. Kami sangat naif dulu, kami kira tanah kosong itu bisa kami manfaatkan. Sekarang kami takut tidak bisa beli tanah untuuk rumah.

Sudah tujuh tahun saya merantau ke Yogyakarta, buat saya yang jarang pulang ke rumah, Jakarta makin asing tiap harinya. Tanah kosong di sebelah Stadion berubah jadi apartemen, tanah kosong di sebelah SD kami berubah jadi pusat perbelanjaan. Beberapa tahun kemudian stadion tempat kami latihan Taekwondo dulu berubah jadi stasiun MRT. Jakarta makin asing, makin tidak saya kenali. Tapi, selama saya bertemu kedua sahabat saya ini, Jakarta berubah jadi Jakarta yang bersahabat, seperti waktu dulu kami kecil.

– – –

Dari sekian banyak yang harus disyukuri hari ini, bolehlah saya bersyukur mempunyai mereka di masa kecil saya, sampai kapanpun

Membenci itu Mudah

Tidak seperti kebencian,

kebaikan itu sangat sulit untuk dikerjakan.

Kebaikan bisa jadi berarti

mengambil seluruh sumsum tulangmu,

menghabiskan waktu berhargamu,

dan melelahkan tubuhmu.

Sementara, kebencian itu mudah.

Tak ada resiko dan pengorbanan,

yang ada hanya kepuasan

atas hasrat yang membuncah di ubun-ubun.

Sekelebat tentang Zakat

Zakat itu kewajiban dan sekaligus hak orang-orang yang menerimanya, kewajiban sang muzakki  untuk memenuhi hak sang mustahiq. Sungguh disayangkan bahwa kerap kali para muzakki  menunaikan zakat dengan cara mengumpulkan orang-orang yang berhak dan membagikannya secara langsung sehingga banyak orang yang berdesak-desakan dan berpotensi menimbulkan kekacauan. Bahkan beberapa di antaranya mengundang/menarik media massa untuk meliput pembagian zakat yang bila berakhir ricuh berpotensi menimbulkan pandangan miring tentang esensi zakat dan zakat sebagai salah satu rukun Islam.

Jika melihat zakat sebagai kewajiban setiap Muslim yang mampu (muzakki) dan hak para mustahiq, maka logikanya adalah jika perlu muzakki yang harusnya datang dan dengan rendah hati melaksanakan kewajibannya dan memenuhi hak para mustahiq karena zakat pada hakikatnya adalah sarana mensucikan diri manusia.

Jakarta, 28 Agustus 2011